Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2012

Pembelajaran Berdasarkan Transformatif


Konsep Dasar Pembelajaran Transformatif
Transformasi pada dasarnya adalah sebuah proses perubahan yang mendasar pada diri manusia. Pembelajaran atau pendidikan yang transformatif adalah pembelajaran atau pendidikan yang menghasilkan perubahan mendasar pada diri peserta didik. Jadi pembelajaran yang tidak memberikan dampak perubahan mendasar pada diri peserta didik bukanlah sebuah pembelajaran transformatif.Dari sini dapat ditarik pengertian bahwa transformasi berarti (a) merubah bentuk, penampilan atau struktur; (b) mengubah kondisi, hakikat atau karakteristik; bahkan (c) mengganti substansi. Dengan demikian semua transformasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah transformasi. Perubahan lebih bersifat superfisial, sedangkan transformasi lebih bersifat substansial.Transformasi memang pada dasarnya adalah sebuah proses atau peristiwa perubahan diri, sehingga yang paling menentukan adalah diri sendiri, diri orang yang bersangkutan, bukan orang lain. Karena itu perubahan diri merupakan inti dari proses transformative learning. Heteroginitas karakteristik peserta didik PLS merupakan salah satu ciri utama yang membedakan PLS dari pendidikan persekolahan. Heteroginitas peserta didik terda-pat baik di antara program yang satu dan program yang lain maupun di dalam setiap program itu sendiri. Dengan beragamnya jenis pendidikan luar sekolah sebagaimana tercermin pada pengkategorian PLS menjadi program-program developmental, institu-tional, dan informational (Boyle, 1981), maka heteroginitas peserta didik tersebut semakin nyata. Pada program Keaksaraan Fungsional misalnya, latar belakang kehidupan peserta didiknya (usia, tingkat ekonomi, jenis pekerjaan, status perkawinan, pengalaman hidup, masalah keluarga, kepribadian, kondisi fisik, dan lain-lain) berbeda-beda. Apalagi perbedaan karakteristik peserta didik antara program yang satu dan program-program yang lain, seperti antara program Keaksaraan Fungsional dan program-program Keseta-raan, Life Skills, PAUD, Homeschooling, Pemberdayaan Wanita, dan Pemberdayaan Masyarakat.

Visi
Pendidikan transformative memiliki visi nengubah masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.sebagaiman masyarakat Indonesia merupakan masyarakat agraris dengan etika ,estetika,dan kepribadian agraris yg belum sepenuhnya familiar dengan ilmu pengentahuan dan teknologi beserta perkembangannya.

Rencana strategis Departemen Pendidikan nasional 2004 mempunyai tujuan untuk pendidikan transfomatif yaitu melahirkan insan cerdas komprehensif dan kompetitif.
Cerdas komprehensif:
Cerdas spiritual(olah hati):beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan ,ketakwaan,dan aklhak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul.
Cerdas emosional(olah rasa):untuk nmeningkatkan sensitivitas dan apresiasivitas akan kehalusan dan keindahan seni budaya serta kompetensi untuk mengekpresikannya.
Cerdas sosial:membina  dan memupuk hubungan timbale balik,demokratis,empatik dan simpatik,menjujung tinggi HAM,ceria dan percaya diri,menghargai kebhinaekaan dalam bermasyarakat dan bernegara serta berwawasan kebangsaan dengan kesadaran hak dan kewajiban warga Negara.
Cerdas intelektual(olah pikir):untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,aktualisasi insane intelektual yang kritis,kreatif dan imajinatif.
Cerdas kinestetis(olah raga):melalui olah raga untuk mewujudkan insan yg sehat,bugar,berdaya tahan,sigap.terampil,dan aktualisasi insane adiraga.

Cerdas kompetitif:
-berkepribadian unggul
-bersemangat juang tinggi
-mandiri
-pantang menyerah
-pembangun dan Pembina jejaring
-bersahabat dengan perubahan
-inovatif dan menjadi agen perubahan
-produktif
-sadar mutu
-berorientasi global
-pembelajar sepanjang hayat


Untuk mewujudkan manusia yang cerdas komprehensif dan kompetitif tidaklah mudah karena:
Keterbatasan:secara internal Indonesia masih memiliki banyak keterbatasan dalam penyelengaraan pendidikan yang unggul dalam hal:
Man(manusia):sumber daya manusia pengelola pendidikan yang kualitasnya masih belum memuaskan.
Money(uang):keuangan yang masih terbatas dan belum dapat memenuhi kebutuhan penyelengaraan pendidikan yang unggul dan bermutu.
Method(metode):metode pendidikan yang belum beragam dan kurang kreatif sehingga proses pendidikan kurang efektif.
Machines(alat):peralatan pendukung pendidikan yang masih terbatas sehingga hanya menggunakan apa yang ada.
Material(input):siswa yang menjadi input  pendidikan juga memiliki banyak keterbatasan karena kondisi pribadi,keluarga dan masyarakat yang banyak problematika.
Tantangan:secara eksternal Indonesia juga menghadapi tantangan dunia dan era global yang merugikan (selain peluang yang menguntungkan)
Ketidaksesuaian:terjadi krisis keteladanan dengan adanya paradox antara teori dengan praktek antara idealitas dengan realita kehidupan yang sangat mengganggu proses pendidikan.
Pendidikan keluarga:orang tua belum dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari dan hanya menuntut dan meminta anak-anaknya berbuat tanpa member teladan.
Pendidikan masyarakat:kehidupan masyarakat juga berbeda dengan nilai-nilai yang d ajarkan di sekolah.
Keterpaduan manusia seutuhnya:proses pendidikan yang memandang manusia secara utuh yaitu spiritual,emosional,sosial,intelektual,kinestesis.
Keterpaduan pengelolaan:proses pengelolaan yang tuntas mulai dari perencanaan(plan),pelaksanaan(action),monitoring dan evaluasi(check) dan perbaikan(improve) program secara terus menerus terjadi peningkatan mutu pendidikan.
Keterpaduan sumber daya:pengelolaan sumber daya pendidikan meliputi man(manusia),money(uang),method(metode),machines(alat),material(input),yang unggul,cukup,tepat,efisien,dan saling mendukung dalam proses pendidikan.
Keterpaduan partisipasi:antara pemerintah dan masyarakat terjadi sinergi dan saling menjalankan peran dengan sebaik2nya sehingga pelaksanaan pendidikan dalam proses dan pembiayaan dapat efektif dan efisien.
Keterpaduan proses:antara pendidikan d sekolah,rumah dan masyarakat terjadi keterpaduan sinergi sehingga apa yang diajarkan disekolah dikuatkan dirumah dan didukung oleh masyarakat.
Keterpaduan antara teory dan praktek:adanya keteladanan dari para pendidik,sehingga nilai-nilai yang diajarkan dapat terlihatwujudnya dalam kehidupan sehingga membekas dan membentuk karakter.
Keterpaduan nasional,regional,global:adanya kerjasama terpadu antara seluruh komponen bangsa(nasional).kemudian dalam lingkup regional seperti asia tenggara terjalin kerja sama untuk kemajuan pendidikan dan kerja sama global untuk kemajuan manusia yang semakin adil,aman,sejahtera,dan bahagia.


Strategi Pembelajaran Transformatif
Dari penjelasan tentang konsep dasar transformasi dan pembelajaran transformatif di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran transformatif telah menjadi sebuah strategi pembelajaran tersendiri. Di dalamnya tedapat kandungan potensi yang luar biasa. Apabila potensi tersebut dapat diaplikasikan kedalam setiap kegiatan pendidikan luar sekolah, maka dapat diharapkan bahwa semua kegiatan pendidikan luar sekolah merupakan  kegiatan pendidikan yang sangat menjanjikan. Sebagaimana telah mulai diakui, pembelajaran transformatif merupakan sebuah strategi pembelajaran yang sesuai untuk pendidikan orang dewasa.
Dewasa ini telah berkembang beberapa perspektif teori belajar transformasional, di antaranya adalah transformasi rasional atau transformasi personal oleh Mezirow, transformasi pendidikan atau transformasi individu oleh Boyd, dan transformasi sosial atau transformasi emansipatori oleh Freire (Taylor, 1998). Menurut transformasi rasional, proses belajar transformatif adalah proses pembangunan makna baru terhadap pengalaman diri sendiri berdasarkan interpretasi sebelumnya guna memandu tindakan –tindakan yang akan datang. Teori ini menjelaskan bagaimana harapan, kerangka asumsi budaya, dan anggapan-anggapan seseorang mempengaruhi makna yang diperoleh dari pengalaman barunya. Kegiatan belajar dilakukan melalui dua ranah, yaitu instrumental dan komunikatif. Belajar instrumental difokuskan pada proses pemecahan masalah, sedangkan belajar komunikatif ditekankan pada pemahaman substansi yang terkandung di dalam pembicaraan orang lain, misalnya tentang nilai, cita-cita, perasaan, keputusan moral, dan konsep-konsep kebebasan, keadilan, kasih sayang, buruh, otonomi, komitmen dan demokrasi.Selanjutnya transformasi pendidikan atau transformasi individu berakar dari psikologi analisis yang mengartikan transformasi sebagai perubahan mendasar di dalam pribadi seseorang sebagai akibat dari pengintegrasian dilemma pribadi dan perluasan kesadaran diri. Diyakini bahwa hanya melalui transformasi perubahan diri yang signifikan bisa terjadi. Tujuan utama transformasi adalah membebaskan diri individu dari pola-pola kehendak dan norma budaya yang menghambat potensi aktualisasi diri. Jadi jika Mezirow menfokuskan diri pada konflik kognitif yang dialami seseorang dalam hubungannya dengan budaya dan menempatkan ego sebagai pemain utama dalam pencapaian transformasi, maka Boyd menfokuskan diri pada upaya mengatasi konflik di dalam internal diri individu untuk mencapai keharmonisan karena diri (self) merupakan bagian sentral dan integral dari totalitas kepribadian.
Terakhir, transformasi emansipatori diartikan sebagai proses pembebasan kehidupan dari unsur-unsur pembelenggu, sebuah proses yang berkelanjutan, tiada henti dan sekaligus dinamis. Freire menekankan transformasi sosial melalui penggugahan kesadaran kritis (conscientization) masyarakat dan menempatkan proses pendidikan sebagai sarana yang tepat untuk keperluan tersebut. Karena itu refleksi kritis dipandang sebagai kata kunci transformasi. Semakin kritis peserta didik, semakin mampu yang bersangkutan mengubah kenyataan hidupnya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknik bertanya Sokratik (Jarvis, 1984). Teknik ini dilaksanakan dengan cara mengarahkan atau mengajukan sejumlah pertanyaan yang urut dan logis kepada peserta didik hingga mereka terdorong untuk merespon dan mengekspresikan pengeta-huan yang telah dimilikinya, yang belum pernah terkristalisasi oleh pemikirannya sendiri.substansi yang paling esensial untuk pembelajaran orang dewasa yang transformatif adalah feeling, thinking, watching, dan doing. Pertama-tama, dua aspek (watching dan doing) dihubungkan dengan garis kontinum “grasping experience” untuk terjadinya proses perolehan pengalaman, kemudian dua aspek lainnya (feeling dan thinking) dihubungkan dengan garis kontinum “transfoming experience” guna menterjadikan proses transformasi pengalaman. keempat aspek tersebut di atas dikaitkan dengan 4 tahap siklus belajar yang terdiri atas “concrete experience“, “abstract experience“, “reflective observation” dan “active experimentation“. Hal ini melahirkan serangkaian pemahaman bahwa feeling membuahkan “concrete experience“, thinking membuahkan “abstract experience“, watching membuahkan “reflective observation” dan doing membuahkan “active experimentation“. Selanjutnya dinamika interaksi keempat aspek dan keempat tahap siklus belajar tersebut melahirkan empat perpaduan aktivitas, yaitu diverging (feel & watch), assimilating (think & watch), converging (think & do), dan accomodating (feel & do). Terakhir, keempat paduan dan keempat tahap siklus belajar tadi dihubungkan oleh garis kontinum processing dan perception.
Berdasarkan pemikiran semacam ini, Cranton (2003) merekomendasikan beberapa strategi yang dapat digunakan, 7 di antaranya adalah sebagai berikut.
1.  An activating event that typically exposes a discrepancy between what  a person has always assumed to be true and what has just been experienced, heard, or read. Menunjukkan sejumlah peristiwa yang sama sekali berbeda dari apa yang selama ini diyakini, dialami, didengar, atau dibaca seseorang yang bersangkutan.
2. Articulating assumptions, that is, recognizing underlying assumptions that have been uncritically assimilated and are largely unconscious.
Mengungkap makna yang sesungguhnya dari anggapan-anggapan yang selama ini diikuti orang secara begitu saja atau yang umumnya tak disadari orang.
3. Critical self-reflection, questioning and examining assumptions in terms of where they came from, the consequences of holding them, and why they are important.
Melakukan perenungan secara kritis dalam arti mempertanyakan atau menguji kebenaran asumsi-asumsi yang ada berkenaan dengan dari mana asal asumsi itu, apa sebetulnya akibat yang bakal terjadi jika mengikutinya, dan mengapa asumsi itu dipandang begitu penting.
4. Being open to alternative viewpoints.
Bersikap terbuka atau membuka diri terhadap pandangan lain yang berbeda,
5. Engaging in discourse, where evidence is weighed, arguments assessed, alterna-tive perspectives explored, and knowledge constructed by consensus.
Melibatkan seseorang pada pembicaraan-pembicaraan yang berbukti, alasan-alasan yang teruji, pandangan-pandangan alternatif yang tertelusuri, dan pengetahuan-pengetahuan yang disepakati.
6. Revising assumptions and perspectives to make them more open and better justified.
Melakukan perubahan dengan sengaja asumsi-asumsi atau pandangan-pandangan yang telah dimiliki seseorang atau masyarakat sehingga sikap mereka menjadi lebih terbuka dan lebih bijak.
7. Acting on revisions, behaving, talking, and thinking in a way that is congruent with transformed assumptions or perspectives
Betul-betul melakukan tindakan perbaikan, atau bertindak, berbicara, dan berfikir yang betul-betul sejalan dengan asumsi-asumsi atau pandangan-pandangan yang telah ditransformasi.

Referensi
DEPDIKNAS 2003 Standart komoetensi bahan kajian;pelayanan professional kurikulum berbasis kompetensi.jakarta:puskur balitbang.
DEPDIKNAS 2003. Kegiatan belajar mengajar yang efektif; Pelayanan Profesional Kurikillum Berbasis Kompetensi.jakarta Puskur Balitbang.
            2003 kurikulum berbasis kompetensi pelayanan professional kurikullum berbasis kompetensi Jakarta puskur balitbang.
            2003 .model pelatihan dan pengembangan silabus ;pelayanan profesional kurikulum berbasis kompetensi .jakarta .puskur balitbang.
http://berkarya.um.ac.id/2010/02/konsep-dan-strategi-pembelajaran-transformasi-untuk-pls-oleh-m-djauzi-moedzakir-ketua-jurusan-pls-fip-um/konsep dan strategi pembelajaran transformasi untuk PLS Oleh M.Djauzi Moedzakir(ketua jurusan PLS FIP UM)

Senin, 16 Januari 2012

Pembelajaran Dengan Teori Kecerdasan Ganda


KECERDASAN GANDA (MULTIPLE INTELEGENSI)
  1. DEFINISI
            Pada tahun 1983 Howard Gardner seorang psikologi terkemuka  dalam bukunya The Theory of Multiple Intelegence, menemukan bahwa sebenarnya manusia memiliki beberapa jenis kecerdasan. Howard menyebutnya sebagai kecerdasan majemuk atau multiple intelegensi.
            Setiap manusia memiliki semua kecerdasan itu, namun hanya beberapa yang dominan atau menonjol dalam diri seseorang.
            Kita sering kali menganggap bahwa orang yang memiliki kecerdasan matematis (logic smart) sebagai orang yang pintar. Namun survai membuktikan bahwa mereka yang dulunya terkenal nakal dan bandel di kelas, justru pada saat bekerja bisa sukses dan menjadi pemimpin atas orang – orang yang rajin dan pandai dikelas. Mengapa bisa demikian?
            Mereka yang nakal dan bandel itu bukanlah bodoh, tetapi mereka memang tidak menonjol dalam kecerdasan matematis dan mungkin menonjol dalam jenis bidang yang lain.
Kedelapan kecerdasan itu adalah :
    1. Kecerdasan linguistic (word smart)                                 
    2. Kecerdasan spasial (picture smart)
    3. Kecerdasn matematis (logic smart)
    4. Kecerdasan kinestetis (body smart)
    5. Kecerdasan musik (music smart)
    6. Kecerdasan interpersonal (people smart)
    7. Kecerdasan intrapersonal (self smart)
    8. Kecerdasan Naturalis (nature smart)
CONTOH KASUS :
Semua orang tua pada umumnya ingin yang terbaik bagi anaknya, terutama dari segi pendidikan. Tingkat intelektual seorang anak sering diartikan sebagai nilai yang dicapai dalam sebuah tes atau peringkat yang diraihnya disekolah.Kecerdasan intelektual biasanya dapat diukur dengan tes IQ. Berdasarkan tes IQ tersebut anak akan diberi “label” anak yang pintar atau bukan. Ada nilai mata pelajaran yang tertentu yang dipercaya secara signifikan berkolerasi dengan kecerdasan anak tersebut. Salah satunya adalah mata pelajaran matematika. Hal inimenyebabkan banyak orang tua yang “mengagungkan” mata pelajaran yang satu ini dan mengira bahwa anak mereka mampu menggeluti bidang ilmu eksata lebih cerdas daripada anak yang menggeluti bidang yang lain.

  1. CIRI MASING – MASING KECERDASAN
1.      WORD SMART
Definisi :
            Kecerdasan linguistik atau bahasa orang yang memiliki kecerdasan ini pandai mengelolah kaa – kata. Sebagian diantara mereka pandai berkata – kata (misal: presenter, rohaniawan, pendongeng, mc, dsb). Sebagian dari mereka pandai menulis (missal: novelis, penulis buku, dsb). Tetapi cukup banyak juga yang menguasai keduanya.
Ciri  – ciri :
·         Bisa berfikir secara sistematis
·         Senang berdebat dan beragumentas, membaca, mendengar, menulis
·         Mampu mengeja dengan mudah
·         Mengingat dengan detail dari sebuah hal
·         Suka permainan kata misalnya eka – teki silang
·         Percaya diri saat berbicara didepan public
Pengembangan dan kegiatan belajar yang cocok untuk tipe kecerdasan ini :
·         Meminta siswa bercerita, mengeja
·         Adakan forum debat diskusi
·         Bermain permainan ingatan tentang nama dan tempat
·         Membaca dan menulis cerita, menulis resensi buku atau membuat kliping
·         Permainan teka – teki silang, atau permainan yang berhubungan dengan kosa kata
·         Minta siswa mewawancarai seseorang mengenai suatu topic
·         Minta siswa membuat pajangan kelas atau majalah kelas
Kecerdasan lain yang mendukung :
            Akan lebih baik jika ditunjang dengan pengembangan self smart, logic smart, dan people smart. Ketiga kecerdasan itu akan meningkatkan kemampuan anda dalam mengelolah kata, serta memperluas wawasan anda.
Pekerjaan yang sesuai :
MC, pembawa acara, rohaniawan, trainer, penyiar radio, guru, editor, story teller, public relation, sastrawan, penulis, copywriter, pelawak.

2.      PICTURE SMART
Definisi :
            Kecerdasan spasial atau kecerdasan gambar. Orang yang memiliki kecerdasan ini sangat mudah mengingat gambar, dan memiliki imajinasi yang kuat. Apabila ia membayangkan sesuatu, bayangan itu tergambar dengn jelas dalam pikirannya. Biasanya orang yang memiliki kemampuan ini orang yang memiliki kemampuan dalam menggambar kebanyakan orang menyebutnya seniman. Kelebihan orang yang memiliki kelebihan picture smart selain punya imajinasi yang tinggi mata mereka biasanya peka atau jeli menangkap hal – hal yang tidak dilihat oleh orang lain.
Ciri – ciri :
·         Senang menggambar dan menulis
·         Baik dalam membaca peta dan diagram
·         Senang permainan puzzle atau jigsaw
·         Berfikir sambil berimajinasi
·         Mudah mengingat berdasarkan gambar.
Pengembangan kegiatan belajar yang cocok untuk tipe kecerdasan ini
·         Upayakan untuk menggunakan banyak gambar, peta pikiran, diagram, peta coretan, dan simbol saat belajar
·         Intregrasikan pembelajaran seni dan computer pada pelajaran lain
·         Jadikan kelas anda semenarik mungkin dengan banyak pajangan


Kecerdasan lain yang mendukung :
             Kecerdasan lain yang paling mendukung adalah nature smart. Biasanya alam adalah sumber ispirasi yang tak terbatas bagi seniman. Dalam dunia kerja, dibutuhkan juga berbagai kecerdasan lain yang dapat menunjang picture smart anda. Biasanya logic smart juga dibutuhkan untuk menunjang picture smart anda. Bahkan seorang disainer grafis juga membutuhkan word smart dalam pekerjaannya.
Pekerjaan yang sesuai :
Desainer grafis, arsitek, desainer interior, pemahat/pematung, fotografer, kamerawan, illustrator, komikus, pelukis, disainer produk, animator dll.

3.      LOGIC SMART
Definisi :
            Kecerdasan matematis atau kecerdasan logika.Orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya unggul dalam pelajaran IPA, FISIKA, MATEMATIKA. Kemampuan analisis yang kuat dan dapat berfikir secara teratur, bahkan pola pikirnya cenderung kaku. Orang logic smart adalah orang yang realistis dan selalu mencari jawaban atas berbagai pertanyaan. Tetapi cenderung mencari alasan terhadap segala sesuatu.
Ciri – ciri :
·         Berfikir secara abstrak
·         Menyukai kegiatan berhitung
·         Bekerja dengan cermat dan menyukai ketepatan
·         Memiliki catatan yang teratur
·         Berfikir dengan logis
·         Senang pelajaran computer
·         Pemecah masalah yang baik
Pengembangan kegiatan belajar yang cocok untuk tipe kecerdasan ini
·         Perbanyak tugas yang melibatkan kemampuan memecahkan masalah
·         Tugas akhir topic dilakukan dengan computer
·         Minta siswa mengkatagorikan fakta dan informasi serta menemukan pola dan hubungan – hubungan
·         Kenalkan pada siswa tahap – tahap dalam pengerjaan tugas.
Kecerdasan lain yang mendukung :
            People smart guna menambah wawasan dan teman, supaya tidak dianggap kutu buku dan orang aneh. Nature smart juga perlu guna memancing otak anda untuk menemukan berbagai pertanyaan yang bisa memperkaya pengetahuan anda sendiri. Music smart, karena konon katanya musik bisa merangsang kerja otak manusia menjadi lebih maksimal. Cocok bagi mereka yang gemar memeras otak.
Pekerjaan yang sesuai :
Ilmuwan, guru/pengajar sains, akuntan, analisis data, programmer, ekonom, ahli teknik (mesin, sipil,elektro,kimia).

4.      BODY SMART
Definisi :
            Kemampuan untuk mengendalikan gerakan, keseimbangan, koordinasi, dan ketangkasan bagian – bagian tubuh. Umumnya orang denga body smart sangat menyukai olah raga dan suka terlibat dalam kegiatan – kegiatan yang mengandalkan fisik.Orang yang aktif. Namun kecerdasan tubuh bukan hanya soal fisik saja. Kemampuan berperan menirukan perilaku tertentujuga termasuk keahlian yang dimilki oleh orang dengan kecerdasan tubuh. Misalnya orang yang gemar mengotak – atik sesuatu (mesin, peralatan elektronik, menjahit bagi wanita) bisa jadi mereka adalah orang yang memiliki kemampuan body smart.
Ciri –ciri :
·         Siswa memiliki control tubuh, respon dan refleks yang baik
·         Suka membuat prakarya atau pekerjaan tangan
·         Tidak bisa diam.
Pengembangan kegiatan belajar yang cocok dengan kecerdasan ini :
·         Sedapat mungkin kegiatan pembelajaran banyak melibatkan anggota tubuh
·         Gunakan gerakan atau ajak siswa memperagakan sesuatu sebagai alat Bantu menjelaskan konsep yang sulit (dramatisasi).

Kecerdasan lain yang mendukung :
            Secara tidak langsung tidak ada kecerdasan lain yang sesifik diperlukan. Tergantung bidng pekerjaan terkait. Misalnya untuk olahragawan, logic smart juga diperlukan untuk menganalisis kemampuan dan kelemahan lawan, serta menyelidiki situasi lapangan dan kondisi lingkungan. Dengan memiliki kemampuan analisis yang baik, sang olahragawan dapat menyiapkan strategu terbaik guna meningkatkan kemungkinannya untuk berhasil.
Pekerjaan yang sesuai:
Atlet, penari, pesulap, penata rambut, penjahit, actor, montir dsb.

5.      MUSIC SMART
Definisi :
            Rasanya tidak perlu dijelaskan lagi. Bagi anda yang yang sangat menyukai musik dan punya bakat dibidang musik, sudah pasti anda adalah orang yang memiliki kecerdasan music.
Ciri – ciri :
·         Sensitive terhadap nada, irama, kekuatan emosi music, komposisi warna dan nada
·         Religius
Pengembangan dankegiatan belajar yang cocok untuk tipe kecerdasan ini :
·         Menggunakan alat musik atau bernyanyi bersama
·         Gunakan lagu sebagai alat Bantu menjelaskan konsep yang sulit
·         Membuat nada dering, lagu melalui telepon genggaman atau computer.
Kecerdasan lain yang mendukung :
            Secara langsung hamper tidak ada kecerdasan lain yang dibutuhkan. Tetapi secara tidak langsung body smart ketrampilan tangan dan koordinasi tubuh, self smart, word smart bagi anda yang suka menciptakan lagu, picture smart, dan nature smart bagus untuk mengembangkan otak kanan and

Pekerjaan yang sesuai :
Tentunya semua yang berhubungan dengan musik, mulai dari pemain musik, vokalis, pembuat jingle, arranger, pencipta lagu, dsb.

6.      PEOPLE SMART
Definisi :
            Orang dengan kecerdasan ini memiliki kemampuan social yang tinggi. Mudah berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, orang dengan kecerdasan ini sanggup menempatkan diri dan membaca situasi orang – orang disekitarnya. Ia dapat dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kegiatan – kegiatan berkelompok akan lebih disukai.
Ciri-ciri :
·         Pintar bernegosiasi, berhubungan, membaca pikiran dan maksud hati orang lain
·         Suka berteman, dan melakukan kegiatan bersama
·         Bisa menjadi mediator dalam perselisihan antar teman
·         Dapat menyesuaikan dengan keadaan.
Pengembangan dan kegiatan belajar yang cocok untuk tipe kecerdasan ini :
·         Melakukan kegiatan belajar kelompok
·         Waktu istirahat yang efektif dan fleksibel agar mereka bisa bersosialisasi
·         Perbanyak kegiatan yang berhubungan dan berkomunikasi antar pribadi.
Kecerdasan lain yang mendukung :
             Yang terutama adalah word smart. Dengan pengolahan kata yang baik, kemampuan social anda akan semakin efektif. Kecerdasan lain yang dibutuhkan, namun tergantung pada jenis pekerjaan yang anda miliki.
Pekerjaan yang sesuai :
Pengusaha, public relations, psikolog, konselor, marketing, politikus, trainer, aktivis social, reporter, sosiolog, dsb.

7.      SELF SMART
Definisi :
             Seseorang yang mampu memahami dirinya sendiri. Ia tahu tujuan hidupnya, punya target yang ingin dicapai, mengerti apa potensi dan kelemahan yang ia miliki. Bisa mengintropeksi diri dan dapat menarik pelajaran dari dari peristiwa dalam hidupnya. Sebenarnya kecerdasan ini perlu dimiliki dan dikembangkan oleh semua orang karena diperlukan untuk mengambil keputusan dalam hidupnya.
Ciri – ciri :
·         Sudah punya motivasi diri, nilai diri, tujuan hidup
·         Sudah menyadari kemampuannya, kekuatan dan kelemahan sendiri
Pengembangan dan kegiatan belajar yang cocok untuk tipe kecerdasan ini :
·         Banyak melakukan diskusi yang mendalam dan Tanya jawab
·         Setiap selesai mengerjakan tugas diminta untuk melakukan refleksi dalam hati, bisa menuliskan apa yang dialami dan rasakan selama proses pembelajaran berlangsung.
Kecerdasan lain yang mendukung :
            Kecerdasan lain berguna untuk mempermudah pengembangan self smart kita. Misalnya, orang yang memiliki music smart akan lebih mudah merenung bila disertai dengan iringan lagu. Orang yang nature smart bisa lebih mudah melakukan introspeksi saat berada di alam terbuka. Orang dengan picture smart bisa menuangkan hasil perenungannya dalam bentuk gambar agar lebih mudah diingat.
Pekerjaan yang sesuai:
Semua pekerjaan membutuhkan self smart agar dapat mencapai potensi maksimal dalam pekerjaan yang dilakukan/digeluti. 

8.      NATURE SMART
Definisi :
             Secara sederhana, orang dengan nature smart adalah orang yang sangat menyukai alam dan lingkungannya. Ia sangat suka berpergian dan segala macam kegiatan diluar ruang. Biasanya juga suka memelihara binatang atau tanaman.
Ciri – ciri:
·         Mempunyai kepekaan akan keadaan alam sekitar
·         Mudah peka akan kondisi lingkungan yang ada
·         Berani bertindak sekalipun menantang untuk mempertahankan lingkungannya
Pengembangan dan kegiatan belajar yang cocok untuk tipe kecerdasan ini :
·         Banyak menikmati suasana alam dan belajar langsung dari alam
·         Buat kaitan sebanyak mungkin dengan alam sekitar.
                 Pekerjaan yang sesuai:
                   Petani, pekebun, arkeologi, astronom, ahli botani, ahli biologi penelitian lingkungan, pelaut, dokter hewan.

  1. PENGEMBANGAN DAN STRATEGI PEMBELAJARAN  KECERDASAN GANDA
    1. Pengembangan Kecerdasan Ganda
            Inti dari konsep kecerdasan ganda, adalah bagaimana memperlakukan anak sesuai dengan potensi dirinya masing – masing. Itu karena setiap manusia memiliki potensi dan kemampuan sendiri – sendiri. Kemapuan dan potensi itulah yang didekati, diarahkan agar berkembang lebih optimal.
            Dalam proses pembelajaran, diterapkan pendekatan active learning (belajar aktif). Siswa diberikan kesempatan untuk berekspresi dan berkreasi seluas mungkin. Ini dimaksudkan untuk dapat tumbuh pribadi yang aktif, mandiri, kreatif, inovatif, sehingga mampu memecahkan masalah dalam hidupnya.
            Untuk menunjang keberhasilan dan kelencaran proses belajar mengajar, perlu dilengkap dengan berbagai fasilitas untuk sarana pembelajaran. Misalnya, laboratorium computer dengan jaringan internet, laboratorium bahasa, laboratorium IPA terpadu untuk mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi. Selain itu, dilengkapi pula dengan sumber belajar multipedia menggunakan layar lebar dan videoconference, perpustakaan serta lapangan olahraga. Para siswa pun dapat mengembangkan diri dan menyalurkan bakat serta minat mereka dengan berbagai kegiatan ekstrakurikulum.
    1. Strategi Dasar Pembelajaran Kecerdasan Ganda
Ada beberapa strategi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda, yaitu:
·         Membangunkan atau memicu kecerdasan , yaitu upaya  untuk mengaktifkan indera dan menghidupkan kerja otak.
·         Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara member latihan dan memperkuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
·         Mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
·         Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan di kelas untuk memahami realitas di luar kelas atau pada lingkungan nyata.

Referensi
Armstrong Thomas Ph.D. Seven Kinds of Smart. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2002.
http://kecerdasan-ganda.blogspot.com/
http://ridhotha.wordpress.com/2010/01/30/teori-kecerdasan-majemuk/

Minggu, 08 Januari 2012

Pembelajaran Berdasarkan Kognitif


A. Pengertian 
            Teori kognitif menerangkan bahwa pembelajaran adalah perubahan dalam pengetahuan yang disimpan di dalam memori. Teori kognitif ini bermaksud penambahan pengetahuan ke dalam ingatan jangka panjang atau perubahan pada skema atau struktur pengetahuan. Pengkajian terhadapTeori belajar kognitif memerlukan penggambaran tentang perhatian, memori dan elaborasi reheashal, pelacakan kembali, dan pembuatan informasi yang bermakna. Manusia memilih, mengamal, memberi perhatian, menghindar, merenung kembali dan membuat keputusan tentang peristiwa- peristiwa yang berlaku dalam persekitaran untuk mencapai matlamat secara aktif. Pandangan kognitif yang lama utamakan perolehan pengetahuan. Pandangan yang baru mengutamakan pembinaan atau pembangunan ilmu pengetahuan Dalam proses pembelajaran kognitif ini melibatkan dua proses mental yang penting yaitu persepsi dan pembentukan konsep (penanggapan).
            Perspektif kognitif ditemui tiap individu merencakan respons perilakunya, menggunakan berbagai cara yang bisa membantu dia mengingat serta mengelola pengetahuan secara unik dan lebih berarti. Teori belajar yang berasal dari aliran psikologi kognitif ini menelaah bagaimana orang berpikir, mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah. Hal yang menjadi pembahasan sehubungan dengan teori belajar ini adalah tentang jenis pengetahuan dan memori.
Menurut pendekatan kognitif yang mutakhir, elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu kepada situasi belajar. Dengan kata lain apa yang telah kita diketahui akan sangat menentukan apa yang akan menjadi perhatian, dipersepsi, dipelajari, diingat ataupun dilupakan. Pengetahuan bukan hanya hasil dari proses belajar sebelumnya, tapi juga akan membimbing proses belajar berikutnya. Berbagai riset terapan tentang hal ini telah banyak dilakukan dan makin membuktikan bahwa pengetahuan dasar yang luas ternyata lebih penting dibanding strategi belajar yang terbaik yang tersedia sekalipun. Terlebih bila pengetahuan dan wawasan yang luas ini disertai dengan strategi yang baik tentu akan membawa hasil lebih baik lagi tentunya.

Perspektif kognitif membagi jenis pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
  • Pengetahuan Deklaratif, yaitu pengetahuan yang bisa dideklarasikan biasanya dalam bentuk kata atau singkatnya pengetahuan konseptual.
  • Pengetahuan Prosedural, yaitu pengetahuan tentang tahapan yang harus dilakukan misalnya dalam hal pembagian satu bilangan ataupun cara kita mengemudikan sepeda, singkatnya “pengetahuan bagaimana”.
  • Pengetahuan Kondisional, adalah pengetahuan dalam hal “kapan dan mengapa” pengetahuan deklaratif dan prosedural digunakan.
teori belajar yang dibahas dalam perspektif kognitif ini adalah tentang bagaimana individu mengingat dan bagian apa saja dari memori yang bekerja dalam proses berpikir seperti pada pemecahan masalah. Model pengolahan informasi merupakan salah satu model dari perspektif teori belajar ini yang menjelaskan kerja memori manusia sesuai dengan analogi komputer, yang meliputi tiga macam sistem penyimpanan ingatan: memori sensori, memori kerja dan memori jangka panjang.
·         Memori Sensori adalah sistem mengingat stimuli secara cepat sehingga analisis persepsi dapat terjadi.
·         Memori Kerja atau memori jangka pendek, menyimpan lima sampai sembilan informasi pada satu waktu sampai sekitar 20 detik, yang cukup lama untuk pengolahan informasi terjadi. Informasi yang dikodekan (decode) serta persepsi tiap individu akan menentukan apa yang perlu disimpan di memori kerja ini.
·         Memori Jangka Panjang menyimpan informasi yang sangat besar dalam waktu yang lama. Informasi di dalamnya disimpan dalam bentuk secara verbal dan visual.
B. Tokoh-tokoh aliran kognitif antara lain:
            Gestalt, Meinong, Ehrenfels, Kohler, Max Wetheimer, dan Koffka. Menurut mereka manusia tidak memberikan respons secara otomatis kepada stimulus yang dihadapkan kepadanya karena manusia adalah makhluk aktif yang dapat menafsirkan lingkungan dan bahkan dapat mendistorsinya (merubahnya). Pada dasarnya mereka berpandangan bahwa manusialah yang menentukan makna stimuli itu, bukan stimuli itu sendiri.


C. Ciri-ciri aliran kognitif:
1. mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
2. mementingkan keseluruhan daripada bagian-bagian
3. mementingkan peranan kognitif
4. mementingkan kondisi waktu sekarang
5. mementingkan pembentukan struktur kognitif
6. mengutamakan keseimbangan dalam diri manusia
7. mengutamakan insight (pengertian, pemahaman)

D. Pengembangan moral kognitif
            Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif, yang yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampauan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif.
 Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif:
1) menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai,
2) siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu,
3) siswa diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan kejelekannya,
4) siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik,
5) siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.



E. Sintaks pembelajaran
Garis besar prilaku guru perlu digambarkan terlebih dahulu dalam sintaks berikut, meski dalam hal ini bersifat dinamik dan kondisional.
Sintaks pembelajaran model pendekatan konflik kognitif
fase-fase kegiatan guru
Fase 1
Orientasi siswa kepada konflik
Fase 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Fase 3
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Fase 5
Menganalisis dan mengevaluasi
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan sumber belajar yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat aktif dalam penmecahan konflik dan mencari kebenaran konsep
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan konflik
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan, melaksanakan eksperimen, diskus internal untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah/konflik
Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan hasil karya, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka lakukan
Perlu diketahui, tidak hanya itu saja namun dalam proses belajar juga ada empat tema pendidikan yang perlu diperhatikan yaitu:
a) mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan,
b) kesiapan (readiness) siswa untuk belajar,
c) nilai intuisi dalam proses pendidikan dengan intuisi,
d) motivasi atau keinginan untuk belajar.siswa, dan guru untuk memotivasinya.


Maka dalam pengajaran di Sekolah Brunner mengajukan bahwa dalam pembelajaran hendaknya mencangkup:
a) Pengalaman – pengalaman optimal untuk mau dan dapat belajar. Pembelajaran dari segi siswa dalah membantu siswa dalam hal mencari alternative pemecahan masalah. Dalam mencari masalah melalui penyelidikan dan penemuan serta cara pemecahannya dibutuhkan adanya aktivitas, pemeliharaan dan pengarahan. Artinya bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu.
b) Penstrukturan Pengetahuan untuk Pemahaman optimal. Pembelajaran hendaknya dapat memberikan struktur yang jelas dari suatu pengetahuan yang dipelajari anak – anak. Dengan perkataan lain, anak dibimbing dalam memahami sesuatu dari yang paling khusus (deduktif) menuju yang paling kompleks (induktif), bukanya konsep yang lebih dahulu diajarkan, akan tetapi contoh-contoh kongkrit dari kejujuran itu sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa dalam proses belajar terdapat tiga tahap, yaitu informasi, trasformasi, dan evaluasi. Lama tidaknya masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak informasi, motivasi, dan minat siswa. Dan cara mengatur kegiatan kognitif dengan menggunakan sistematika alur piker dan sistematik proses belajar itu sendiri.
 Orang yang menggunakan alur pikir dalam pemecahan masalah, Ia akan berfikir sistematis dan dapat mengkontrol kegiatan kognitifnya, sehingga pembelajaran akan lebih efisien.

 
 Referensi

Tim Pengembangan MKDK. 1989. Psikologi Belajar. Semarang: IKIP Semarang
Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES
http://massofa.wordpress.com/2008/09/12/677/
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/08/model-pembelajaran-afekti...
http://www.wpfind.com/teori%20pembelajaran%20kognitif/tags